Jumat, 11 Maret 2011

Pemberitahuan Penting


Pembangkit Nuklir Jepang Terbakar Akibat Gempa
Tokyo - Kebakaran sempat terjadi di sebuah pembangkit listrik bertenaga nuklir di Jepang menyusul gempa dahsyat dan tsunami di negeri Sakura itu. Belum jelas apakah kebakaran itu menimbulkan risiko kebocoran radioaktif.

Kebakaran itu terjadi di pembangkit nuklir di Miyagi yang dioperasikan oleh perusahaan Tohoku Electric Power. Demikian seperti diberitakan media Jepang, Kyodo dan dilansir Telegraph, Jumat (11/3/2001).

Asap keluar dari gedung turbin yang terpisah dari reaktor nuklir. Miyagi merupakan salah satu wilayah yang paling parah dilanda tsunami.

Kyodo juga memberitakan, unit pendingin inti darurat di pembangkit nuklir lainnya di Fukushima juga telah diaktifkan. Namun tidak disebutkan alasan pengaktifan tersebut.

Sebelumnya Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan, tak ada kebocoran radiasi yang terdeteksi dari pusat-pusat pembangkit nuklir Jepang.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyatakan, empat pembangkit nuklir yang paling dekat dengan pusat gempa telah dihentikan beroperasi sebagai langkah pencegahan

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Pemberitahuan Penting

Jumat, 11/03/2011 14:52 WIB
Awas! Tsunami Jepang Mencapai Biak, Papua & Maluku Pukul 19.30 WIB  video 
Nograhany Widhi K - detikNews

Awas! Tsunami Jepang Mencapai Biak, Papua & Maluku Pukul 19.30 WIB
Tsunami Jepang/Reuters



























Jakarta - Staf Khusus Presiden bidang Penanggulangan Bencana Andi Arief memberikan peringatan tsunami akibat gempa dahsyat di Jepang. Dampak musibah di Jepang ini bisa mencapai bagian timur Indonesia. 

"Warning : ‎​diantisipasi kemungkinan bisa terdampak terkena biak dan irian + maluku. Mhn diwaspadai. (DRM HAMZAH LATIEF, Tim ahli Tsunami)," tulis Andi Arief dalam akun twitternya @andiariefnews, Jumat (11/3/2011).

‎​Hamzah Latief, melalui Andi Arief mengatakan tsunami mencapai Indonesia pada pukul 19.30 WIB atau 21.30 WIT. 

"DR Hamzah Latief : Tingginya sekitar 50 cm sd 1 m. Waktunya sampai ke Indonesia kira2 jam 19.30 atau 21.30 di Indonesia timur," tulis Andi.

Andi pun menjelaskan bahwa tsunami Aceh 2004 lalu saja bisa mencapai Somalia dan Bangladesh. Gempa di Chili tahun 1960 mengakibatkan tsunami hingga Jepang yang mengakibatkan 300-an siswa SD menjadi korban saat bermain di pantai.

Peringatan tsunami ini juga dikeluarkan oleh Pusat Deteksi Dini Tsunami Pasifik di Hawaii, Amerika Serikat.

"Peringatan tsunami berlaku untuk Jepang, Rusia, Pulau Marcus, dan Marianas Utara. Pemantauan tsunami juga dikeluarkan untuk Guam, Taiwan, Filipina, Indonesia dan negara bagian Hawaii, AS," tulis Pusat Deteksi Dini Tsunami Pasifik Hawai seperti ditulis AAP dan dilansir dari news.com.au, Jumat (11/3/2011).
(nwk/nrl)


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Rabu, 09 Maret 2011

Temuan NASA Soal Fosil Alien Keliru




AP/Smithsonian Institution's National Museum of Natural History, Chip Clark




VIVAnews - Seorang ilmuwan NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) menyatakan telah menemukan fosil bakteri di meteorit. Namun, atasannya sendiri justru membantah klaim tersebut. 

Sebagaimana disiarkan VIVAnews sebelumnya, seorang ilmuwan bernama Richard B Hoover, menunjukkan bukti adanya makhluk hidup dalam meteorit.

Peneliti dari Pusat Penerbangan Marshall NASA itu mengklaim bahwa ia dan timnya menemukan bukti makhluk hidup berupa fosil bakteri langka, yang hidup di dalam bongkahan batu dari luar angkasa itu. Citra ini diperolehnya dengan menggunakan mikroskop. Ia mengira bahwa fosil bakteri kecil itu adalah cyanobacteria. Tapi, ternyata keliru.

Sekadar diketahui, Cyanobacteria merupakan bakteri biru-hijau yang masuk golongan bakteri autotrof fotosintetik. Dia dapat menghasilkan makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari secara kimia.

Laporan tersebut kini lantas dihentikan perluasannya oleh NASA, meski sempat dipublikasikan Jumat lalu di salah satu jurnal online eksentrik: Journal of Cosmology.

Akibat kecorobohan Hoover, NASA mulai memperhitungkan pekerjaannya. Senin kemarin, Paulus Hertz, kepala direktorat misi NASA mengatakan bahwa NASA tidak dapat berdiri di belakangnya dan mendukung klaim ilmiah tersebut.

"Kami tidak dapat mendukung klaim ilmiah sampai benar-benar dikaji secara menyeluruh dan memenuhi syarat ... Kami bahkan tidak mengetahui pengajuan kertas ke Journal of Cosmology atau publikasi yang terjadi belakangan ini," kata Hertz.

Menanggapi isu ini, Journal of Cosmology pun turut buka mulut. Media publikasi yang berusia 2 tahun itu mengklaim bahwa publikasi itu telah diuji bersama ilmuwan (peer-reviewed).

Pada kasus ini, editor jurnal mengatakan artikel yang dikirimkan Hoover telah melalui kritik dari 100 ilmuwan terkemuka dan layak dimasukkan dalam jurnalnya. Dalam penelitian ilmiah normal, peer-review dibutuhkan untuk sebelum diterbitkan untuk menjamin keakuratan.